1. Beranda
  2. Artikel
  3. Website atau marketplace

Strategi online

Website Sendiri atau Marketplace (Shopee, Tokopedia)? Mana yang Cocok untuk UMKM

Oleh Saffron Kite · · baca ±7 menit

Kalau mau mulai jualan online, pilihan yang paling sering terpikir adalah buka toko di marketplace seperti Shopee, Tokopedia, atau TikTok Shop. Lalu muncul pertanyaan: masih perlu website sendiri, atau marketplace saja sudah cukup? Jawabannya bergantung pada cara usahamu berjualan. Kami memang membuat website, tapi di artikel ini kami jelaskan sejujurnya kapan marketplace justru lebih cocok.

Jawaban singkat

Marketplace cocok kalau kamu ingin ditemukan pembeli baru dari seluruh Indonesia dan produkmu mudah dikirim lewat ekspedisi. Website sendiri cocok kalau pembelimu suka bertanya dulu sebelum membeli, banyak yang datang lagi, atau kamu melayani pelanggan lokal, kantor, dan acara. Banyak UMKM akhirnya memakai keduanya, karena fungsinya berbeda.

Bedanya di mana

Bayangkan marketplace sebagai mal besar. Pengunjungnya banyak, tempatnya sudah jadi, kasir dan satpam disediakan pengelola. Tapi tokomu berdampingan dengan banyak toko lain yang menjual barang serupa, dan aturan main ditentukan pengelola mal.

Website sendiri seperti ruko milikmu. Kamu yang mengatur tampilan, isi, dan cara pesan. Tidak ada toko pesaing di sebelahmu. Kekurangannya, orang tidak otomatis lewat. Kamu perlu mengarahkan mereka, lewat Google, Instagram, WhatsApp, atau dari mulut ke mulut.

Kelebihan dan batas marketplace

Kelebihannya

  • Pembeli sudah ada. Orang membuka aplikasi marketplace memang untuk mencari dan membeli barang.
  • Pembayaran dan pengiriman sudah diurus. Pembeli bisa bayar dengan banyak cara, dan resi ekspedisi tersambung ke sistem.
  • Dipercaya pembeli baru. Ada ulasan, rating, dan perlindungan pembeli dari platform, jadi orang berani membeli dari toko yang belum mereka kenal.
  • Bisa mulai tanpa biaya pembuatan. Buka toko biasanya gratis, kamu cukup mengunggah produk.

Batasnya

  • Ada potongan di setiap penjualan. Biaya admin, biaya layanan, atau program tertentu dipotong dari hasil jualan. Besarnya ditentukan platform dan bisa berubah, jadi selalu cek angka terbaru di pusat edukasi penjual masing-masing.
  • Bersaing harga secara langsung. Produkmu tampil berdampingan dengan toko lain, dan pembeli mudah mengurutkan dari yang termurah.
  • Pelanggan milik platform. Data dan kontak pembeli terbatas, jadi lebih sulit mengajak mereka belanja lagi secara langsung.
  • Aturan bisa berubah kapan saja. Biaya, syarat promosi, dan cara produk ditampilkan diatur pihak marketplace, bukan olehmu.
  • Kurang cocok untuk produk custom. Kue ulang tahun dengan tulisan, catering untuk acara, atau barang pesanan khusus biasanya butuh obrolan dulu, dan alur marketplace dirancang untuk “pilih, bayar, kirim”.

Kelebihan dan batas website sendiri

Kelebihannya

  • Tidak ada potongan per transaksi dari pihak lain. Biayanya pembuatan di awal dan perpanjangan tahunan yang jumlahnya tetap.
  • Hanya tokomu yang tampil. Pembeli tidak sedang membandingkan dengan puluhan toko lain di halaman yang sama.
  • Bisa ditemukan lewat Google, terutama untuk pencarian lokal seperti “hampers Batam” atau “catering kantor Batam”.
  • Satu link yang rapi untuk dikirim ke pelanggan, admin kantor, atau calon mitra.
  • Hubungan langsung dengan pelanggan. Kalau pesanan masuk lewat WhatsApp, kontak pembeli ada di HP-mu dan mereka gampang pesan lagi.

Batasnya

  • Tidak langsung ramai. Google butuh waktu untuk mengenali website baru, dan peringkat di hasil pencarian tidak bisa dijamin siapa pun.
  • Kamu yang mendatangkan pengunjung. Link website perlu dipasang di bio Instagram, profil Google Maps, dan dibagikan ke pelanggan.
  • Kepercayaan dibangun sendiri. Pembeli baru tidak melihat rating marketplace, jadi foto asli, info jelas, dan ulasan Google sangat membantu.
  • Ada biaya tahunan untuk domain dan hosting. Rinciannya ada di artikel biaya bikin website di Batam.

Perbandingan singkat

HalMarketplaceWebsite sendiri
Biaya awalUmumnya gratis buka tokoBiaya pembuatan + perpanjangan tahunan
Biaya per penjualanAda potongan dari platformTidak ada potongan dari pihak lain
Pembeli baruKuat, pembeli sudah ada di aplikasiPerlu didatangkan lewat Google dan media sosial
Pesaing di halaman yang samaBanyakTidak ada
Kontak pelangganTerbatasLangsung, misalnya lewat WhatsApp
Pesanan custom atau perlu tanya duluKurang pasPas, apalagi dengan tombol WhatsApp
Pembayaran dan resi otomatisSudah tersediaTergantung jenis website

Kapan marketplace lebih cocok

  • Produkmu barang jadi yang mudah dikirim ke luar kota, misalnya aksesori, fashion, atau sparepart.
  • Kamu ingin menjangkau pembeli di seluruh Indonesia dan siap bersaing harga.
  • Pembeli biasanya langsung beli tanpa banyak tanya.
  • Kamu belum punya anggaran untuk website dan ingin menguji produk dulu.

Kalau kondisinya seperti ini, fokus dulu di marketplace tidak salah. Website bisa menyusul saat penjualan sudah stabil.

Kapan website sendiri lebih cocok

  • Pembeli sering bertanya dulu: ukuran, rasa, jadwal, atau bisa custom atau tidak.
  • Produknya untuk pembeli lokal, seperti kue, hampers, catering, frozen food, atau tanaman, yang diantar atau diambil di Batam.
  • Banyak pelanggan langganan yang lebih nyaman pesan lewat chat.
  • Kamu melayani kantor atau panitia acara yang butuh link rapi berisi produk dan harga.
  • Kamu capek mengirim foto dan pricelist satu per satu setiap ada yang bertanya.

Jalan tengah: website katalog + WhatsApp

Banyak UMKM tidak butuh toko online penuh dengan keranjang, checkout, dan payment gateway. Yang dibutuhkan sebenarnya tempat untuk memajang produk dengan rapi, lalu pesanan tetap dikonfirmasi lewat chat seperti biasa.

Website katalog bekerja seperti itu. Pembeli melihat foto, harga, dan keterangan produk, lalu menekan tombol Pesan. WhatsApp terbuka dengan nama produk dan harga sudah terisi. Kamu tinggal konfirmasi stok, hitung ongkir, dan kirim total. Pembayarannya ke rekening atau QRIS milikmu sendiri, jadi tidak ada potongan per transaksi dari pihak ketiga.

Paket Katalog + WA kami berisi katalog sampai 30 produk dengan filter kategori, halaman cara pesan dan pengiriman, serta tanya jawab. Harganya normal Rp 3,49 juta, dan selama Promo Oktober sampai 31 Oktober 2026 menjadi Rp 2,44 juta, sudah termasuk domain .com, hosting, dan SSL tahun pertama. Perpanjangan mulai tahun ke-2 Rp 850 ribu/tahun. Kamu juga bisa mencoba contoh katalognya langsung di HP.

Kalau produkmu baru belasan, tidak perlu langsung paket katalog. Paket Bisnis (normal Rp 2,49 juta, promo Rp 1,74 juta) sudah bisa memuat satu halaman daftar produk, dan Starter (normal Rp 1,19 juta, promo Rp 829 ribu) cukup untuk pricelist singkat di satu halaman. Syarat promo dan rincian lengkapnya ada di halaman jasa website.

Kapan website katalog kurang cocok? Kalau produkmu ratusan dengan stok yang berubah setiap jam, atau pembeli harus bisa bayar otomatis dengan kartu. Untuk itu, marketplace atau toko online penuh lebih pas.

Hitung dulu sebelum memutuskan

Daripada memilih berdasarkan perasaan, coba hitung dengan angka usahamu sendiri:

  1. Lihat laporan penjualan marketplace dan jumlahkan semua potongan selama beberapa bulan terakhir: biaya admin, layanan, promo, dan iklan.
  2. Bandingkan dengan biaya website per tahun, yaitu biaya pembuatan di tahun pertama, lalu perpanjangan di tahun berikutnya.
  3. Perkirakan berapa pesanan yang sebenarnya datang dari pelanggan lama atau lokal. Pesanan seperti ini sering tidak butuh marketplace untuk ditemukan.
  4. Hitung waktu yang habis untuk mengirim foto, harga, dan menjawab pertanyaan yang sama di chat.

Kalau potongan dari pelanggan lama saja sudah mendekati biaya website setahun, website sendiri layak dipertimbangkan. Kalau hampir semua pesanan datang dari pembeli baru di luar kota, marketplace masih jadi andalan.

Memakai keduanya

Pilihan yang paling masuk akal untuk banyak usaha bukan “salah satu”, tapi keduanya dengan peran berbeda:

  • Marketplace untuk menjangkau pembeli baru di luar kota.
  • Website untuk pembeli lokal, pelanggan langganan, pesanan custom, dan orang yang mencari lewat Google.
  • Google Maps supaya usahamu muncul saat orang di sekitar mencari. Caranya ada di panduan daftar Google Maps.
  • WhatsApp sebagai tempat transaksi untuk pesanan dari website. Tips merapikannya ada di artikel cara terima pesanan WhatsApp.

Satu hal yang perlu diperhatikan: sebelum menaruh nomor WhatsApp atau link website di halaman toko, chat, atau kemasan marketplace, baca dulu aturan platformnya. Marketplace punya aturan sendiri soal mengarahkan pembeli ke luar platform, dan pelanggaran bisa berujung sanksi untuk tokomu. Cara yang lebih aman adalah membagikan link website lewat Instagram, Google Maps, dan langsung ke pelanggan yang memang sudah kenal.

Masih bingung, website atau marketplace?

Ceritakan produk dan cara pembelimu biasa pesan lewat WhatsApp. Kami beri pendapat jujur, termasuk kalau menurut kami marketplace saja sudah cukup.